Upaya Melanggengkan Persahabatan

Beberapa upaya yang bisa ditempuh untuk melanggengkan persahabatan adalah sebagai berikut.

Mengingat keutamaan cinta dan benci karena Allah Subhaanahu wata’aala.
Banyak sekali dalil yang menerangkan keutamaan cinta dan benci karena Allah Subhaanahu wata’aala. Diantaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalla, menyatakan:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلَّهُ؛ … وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ…
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah Subhaanahu wata’aala -Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, menyebutkan diantaranya: Dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhaanahu wata’aala. Berkumpul dan berpisah di atasnya.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)
Continue reading

Awas!! Deklarasi Khilafah Islamiyyah Khayal di Iraq!!

Baru-baru ini, orang-orang dungu dari kalangan Khawarij di Iraq, membikin “kejutan” baru lagi dengan mendeklarasikan apa yang mereka sebut sebagai “Khilafah Islamiyyah” sebagai ganti dari ad-Daulah al-Islamiyyah fi al-Iraq wa asy-Syaim (DAIS) atau Islamic State in Iraq and Syam (ISIS). “Khilafah Islamiyyah” merupakan sebuah nama yang benar-benar mengundang simpati kaum muslimin secara luas. Membuat banyak pihak terkecoh dan terpesona, bahkan tertipu dengannya. Sehingga tidak jarang dari mereka yang turut mengelu-elukan, dan menganggap bahwa asy-Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi al-Husaini yang dibai’at dan dinobatkan sebagai khalifah tersebut, benar-benar sebagai khalifah Islam. Tanpa mereka (kaum muslimin tersebut) mengetahui apa hakekat sebenarnya “Daulah Islamiyyah” atau pun “Khilafah Islamiyyah” itu, yang didirikan tidak lain oleh orang-orang khawarij. Belum apa-apa, sudah ada pernyataan, bahwa mereka bersumpah akan menghancurkan Ka’bah jika berhasil menguasai Arab Saudi. Mereka menyatakan Ka’bah menyebabkan seseorang “menyembah batu selain Allah”. Lahaula wala Quwwata illa billah!

Sebenarnya orang-orang khawarij yang selama ini menyerukan “jihad” di Iraq dan di Syam itu terpecah belah dalam banyak kelompok/parta/pergerakan, dan terjadi persaingan antar mereka. Tentu saja kita tahu, siapa dan bagaimana sepak terjang Khawarij salama ini. Iya, tidak lain mereka adalah kelompok-kelompok teroris, yang selama ini banyak merugikan dan memberikan citra yang buruk terhadap Islam dan kaum muslimin. Akibat berbagai tindakan dan aksi mereka selama ini yang ternyata tidak selaras dengan Syari’at Islam. Walhasil, sebenarnya kelompok Khawarij – dengan berbagai macam pecahan dan variasinya – adalah kelompok sempalan dan sesat dari Islam.

Sementara itu, di sisi lain, kalangan Islamphobia, baik dari kalangan Islam Liberal, Sekuler, atau pun lainya, menunjukkan sikap anti dan kebenciannya dengan “Daulah Islamiyyah” yang baru diproklamirkan tersebut. Momen ini benar-benar mereka jadikan kesempatan untuk menghantam kaum muslimin dan menjatuhkan nama baik Islam.

Alhamdulillah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah pihak yang paling tenang dalam menghadapi berbagai fitnah dan kemelut yang terjadi. Mereka tidak gampang tertipu dan “terseret arus”. Karena Ahlus Sunnah memiliki pedoman yang jelas dalam menyikapi berbagai persoalan, termasuk persoalan-persoalan kontemporer kekinian. Para ‘ulama Ahlus Sunnah senantiasa tegar tampil dalam tataran International, memberikan bimbingan kepada kaum muslimin.

Menyikapi “gegap-gempita” lahirnya “Khilafah Islamiyyah” ini, berikut kami bawakan penjelasan dari Dua ‘Ulama Besar Ahlus Sunnah masa ini: asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah dan asy-Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah.

Continue reading

Nonton Piala Dunia !!!

Al-Allamah Saleh AL-Fauzan حفظه الله ditanya:

Apa nasehatmu kepada sebagian penuntut ilmu yang menontot pertandingan piala dunia pada sepertiga malam terakhir?

 

maka beliau menjawab :

أنهم اضاعوا و قتهم بغير فائدة ، أضاعوا و قتهم بغير فائدة ، أيهما أولى و أحسن أن : يقوم آخر الليل و يصلي أو الذي ينظر للمباريات . لكن هذا خسران ، هذا خسران عليهم إلا إن تابوا إلى الله  – عز وجل –  و حفظوا و قتهم . نعم

Continue reading

Hukum Islam Kepada Para Koruptor

Hukum Islam Kepada Para Koruptor

Beliau pernah memotong tangan orang yang mencuri sebuah perisai yang harganya 3 dirham.(1)
Beliau juga pernah menetapkan bahwa tangan pencuri tidak boleh dipotong kalau hasil curiannya kurang dari ¼ dinar. (HR. Al-Bukhari (12/89), Muslim (1684), Malik (2/832), At-Tirmidzi (1445) dan Abu Daud (4383) dari hadits Aisyah -radhiallahu anha-.)
Telah shahih dari beliau bahwa beliau bersabda, “Potonglah tangan pada pencurian senilai ¼ dinar, dan jangan kalian memotong kalau nilainya di bawah dari itu.” Disebutkan oleh Imam Ahmad -rahimahullah-. (HR. Ahmad (6/80) dari hadits Aisyah -radhiallahu anha- dengan sanad yang kuat)
Aisyah -radhiallahu anha- berkata, “Tidak pernah ada pemotongan tangan pencuri di zaman Rasulullah r pada curian yang nilainya kurang dari harga perisai, tameng dan setiap dari benda ini mempunyai nilai.” (HR. Al-Bukhari (12/89), Muslim (1684) dan Malik dalam Al-Muwaththa` (2/832))
Telah shahih dari beliau bahwa beliau bersabda, “Allah melaknat pencuri yang mencuri seutas tali lalu tangannya dipotong, dan yang mencuri sebutir telur lalu tangannya dipotong.” (HR. Al-Bukhari (12/94), Muslim (1687) dan An-Nasa`i (8/65))

Continue reading

Berakhlaq Mulia di Tanah Suci

Tidak lama lagi, sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin pergi ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu menjalankan ibadah haji ke Baitullah. Segala persiapan pun, baik fisik, mental, dan berbagai bekal lainnya tentunya sudah dilakukan oleh masing-masing calon jama’ah dalam rangka menyambut panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini.

Namun yang tidak kalah pentingnya bagi calon jama’ah haji adalah mempersiapkan bekal ilmu dan pengetahuan yang benar terkait dengan ibadah ini. Tidak diragukan lagi bahwa haji merupakan ibadah yang sangat besar keutamaan dan pahalanya bagi siapa saja yang menunaikannya dengan ikhlas dan benar. Ikhlas dalam menunaikannya, dan benar dalam pelaksanaan manasik sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam.

Orang yang demikianlah yang akan meraih predikat haji mabrur yang tidak ada balasan baginya kecuali Al Jannah (surga) sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam:

”Umrah yang satu dengan umrah yang berikutnya akan menjadi kaffarah (penebus dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali Al Jannah.” (Muttafaqun ’Alaihi)

Di antara perkara terpenting yang harus diperhatikan oleh calon jama’ah haji dalam upayanya meraih predikat haji mabrur adalah berhias dengan adab dan akhlaq mulia saat pelaksanaan ibadah haji, diantaranya sebagai berikut:

1. Ikhlas dan niat yang jujur
Ini adalah perkara paling penting yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang hendak beribadah. Terkhusus bagi calon jama’ah haji, dia harus benar-benar mengoreksi diri apakah niatannya dalam menunaikan rukun Islam yang kelima ini sudah dilandasi keikhlasan dan niat yang jujur ataukah belum.
Seorang yang menunaikan ibadah haji tidaklah dinyatakan ikhlas kecuali saat menunaikannya hanya untuk mendapatkan pahala dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharapkan jannah(surga)-Nya, dan berharap agar dosa-dosanya terhapus sehingga dia seperti seorang anak yang baru dilahirkan ibunya yang bersih dan tidak menanggung dosa apapun sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alihi wa Sallam

”Barangsiapa yang menjalankan ibadah haji karena Allah, kemudian dia tidak melakukan perbuatan keji dan fasik (maksiat), maka dia akan kembali (ke rumahnya) dalam keadaan seperti pada hari dia dilahirkan oleh ibunya (yakni tanpa dosa).” (Muttafaqun ’Alaihi)

Continue reading

Pesan dan Wasiat Bagi Calon Jama’ah Haji (1 – 3)

Pesan dan Wasiat Bagi Calon Jama’ah Haji (1 – 3)

October 25, 2009

1. PESAN DAN WASIAT PENTING UNTUK PARA CALON JAMA’AH HAJI

Wahai para jama’ah haji

Kami panjatkan puji kepada Allah Yang telah melimpahkan taufiq kepada anda sekalian untuk dapat menunaikan ibadah haji dan berziarah ke Masjidil Haram, semoga Allah menerima kebaikan amal kita semua dan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Kami sampaikan berikut ini pesan dan wasiat, dengan harapan agar ibadah haji kita diterima oleh Allah sebagai haji yang mabrur dan usaha yang terpuji.

1. Ingatlah, bahwa anda sekalian sedang dalam perjalanan yang penuh barakah, perjalanan menuju Ilahi dengan berlandaskan Tauhid dan ikhlas kepada-Nya, serta dalam rangka memenuhi seruan-Nya dan ta’at akan perintah-Nya. Karena tiada amal yang paling besar pahalanya selain amal-amal yang dilaksanakan atas dasar tersebut. Dan haji yang mabrur balasannya adalah Jannah.

2. Waspadalah anda sekalian dari tipu daya syaitan, karena dia adalah musuh yang selalu mengintai anda. Maka dari itu hendaknya anda saling mencintai dalam naungan rahmat Ilahi dan menghindari pertikaian dan kedurhakaan kepada-Nya. Ingatlah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Tiadalah sempurna iman seseorang di antara kalian, sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai diriya sendiri” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

3. Bertanyalah kepada orang yang berilmu tentang masalah-masalah agama dan ibadah haji yang kurang jelas bagi anda, sehingga anda mengerti, karena Allah berfirman :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang berpengetahuan jika kamu tidak mengetahui”(An Nahl 43)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

“Barangsiapa Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah memberinya kefahaman agama” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4. Ketahuilah, bahwa Allah telah menetapkan kepada kita beberapa kewajiban dan menganjurkan untuk melakukan amalan-amalan yang sunnah. Akan tetapi tidaklah diterima amalan-amalan sunnah ini apabila amalan-amalan yang wajib tadi disia-siakan.

Hal ini sering kurang disadari oleh sebagian jama’ah haji, sehingga terjadilah perbuatan yang mengganggu dan menyakiti sesama mukmin dengan berdesak-desakan ketika berusaha untuk mencium Hajar Aswad, atau ketika melakukan raml (berlari kecil pada tiga putaran pertama) dalam thawaf , ketika shalat di belakang Maqam Ibrahim, dan ketika minum air Zamzam.

Amalan-amalan tersebut hukumnya hanyalah sunnah, sedangkan mengganggu dan menyakiti sesama mu’min adalah haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Al-Ahzab : 58)

Patutkah kita mengerjakan suatu perbuatan yang haram hanya semata-mata untuk mencapai amalan yang sunnah? Maka dari itu hindarilah – semoga Allah merahmati anda sekalian – perbuatan yang dapat mengganggu dan menyakiti satu sama lain, mudah-mudahan dengan demikian Allah memberikan pahala berlipat ganda bagi anda sekalian.

Kemudian kami tambahkan beberapa penjelasan sebagai berikut:

a. Tak layak bagi seorang muslim melakukan shalat di samping wanita atau di belakangnya, baik di Masjid Haram ataupun di tempat lain dengan sebab apapun, selama dia dapat menghindari hal itu. Dan bagi wanita hendaklah melakukan shalat di belakang kaum pria.

b. Tidak boleh shalat di pintu-pintu dan jalan masuk ke Masjid Haram karena itu menyakiti dan mengganggu orang-orang yang hendak lewat.

c. Tidak boleh duduk atau shalat di dekat Ka’bah atau berdiam diri di Hijir Isma’il atau Maqam Ibrahim, sebab hal itu dapat mengganggu orang yang sedang melakukan thawaf. Lebih-lebih di saat penuh sesak, karena yang demikian itu dapat membahayakan dan mengganggu orang lain.

d. Mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah, sedangkan menghormati sesama muslim adalah wajib. Maka janganlah menghilangkan yang wajib hanya semata-mata untuk mengerjakan yang sunnah. Adapun dikala penuh sesak cukuplah anda berisyarat (dengan mengangkat tangan) ke arah Hajar Aswad sambil bertakbir, dan terus melanjutkan thawaf. Setelah selesai thawaf, keluarlah anda dengan tenang dan perlahan-lahan.

e. Yang sunnah ketika sampai di Rukun Yamani adalah cukup mengusapnya dengan tangan kanan, sambil mengucapkan:

Tidak disyari’atkan untuk mencium Rukun Yamani. Jika dalam kondisi tidak memungkinkan bagi seorang yang berthawaf untuk mengusapnya, maka terus saja ia melanjutkan thawaf, tanpa perlu berisyarat ataupun bertakbir ketika melawati Rukun Yamani, karena perbuatan tersebut (berisyarat dan bertakbir) tidak ada riwayat yang sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika berada antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad disunnahkan membaca :

Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari adzab neraka.

Akhirnya, kami berpesan kepada segenap kaum muslimin agar selalu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena Allah berfirman :

“Dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya, agar kalian dirahmati (oleh Allah)” (Ali ‘Imran: 132)

(diambil dari Dalilul Haj wal Mu’tamir yang disusun oleh Hai`ah At-Tau’iyyah Al-Islamiyyah fil Hajj)

(Dikutip dari http://www.assalafy.org/mahad/?p=378)

2. Berakhlaq Mulia di Tanah Suci

Tidak lama lagi, sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin pergi ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu menjalankan ibadah haji ke Baitullah. Segala persiapan pun, baik fisik, mental, dan berbagai bekal lainnya tentunya sudah dilakukan oleh masing-masing calon jama’ah dalam rangka menyambut panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini.

Namun yang tidak kalah pentingnya bagi calon jama’ah haji adalah mempersiapkan bekal ilmu dan pengetahuan yang benar terkait dengan ibadah ini. Tidak diragukan lagi bahwa haji merupakan ibadah yang sangat besar keutamaan dan pahalanya bagi siapa saja yang menunaikannya dengan ikhlas dan benar. Ikhlas dalam menunaikannya, dan benar dalam pelaksanaan manasik sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam.

Orang yang demikianlah yang akan meraih predikat haji mabrur yang tidak ada balasan baginya kecuali Al Jannah (surga) sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa Sallam:

”Umrah yang satu dengan umrah yang berikutnya akan menjadi kaffarah (penebus dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali Al Jannah.” (Muttafaqun ’Alaihi)

Di antara perkara terpenting yang harus diperhatikan oleh calon jama’ah haji dalam upayanya meraih predikat haji mabrur adalah berhias dengan adab dan akhlaq mulia saat pelaksanaan ibadah haji, diantaranya sebagai berikut:

1. Ikhlas dan niat yang jujur
Ini adalah perkara paling penting yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang hendak beribadah. Terkhusus bagi calon jama’ah haji, dia harus benar-benar mengoreksi diri apakah niatannya dalam menunaikan rukun Islam yang kelima ini sudah dilandasi keikhlasan dan niat yang jujur ataukah belum.
Seorang yang menunaikan ibadah haji tidaklah dinyatakan ikhlas kecuali saat menunaikannya hanya untuk mendapatkan pahala dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharapkan jannah(surga)-Nya, dan berharap agar dosa-dosanya terhapus sehingga dia seperti seorang anak yang baru dilahirkan ibunya yang bersih dan tidak menanggung dosa apapun sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alihi wa Sallam

”Barangsiapa yang menjalankan ibadah haji karena Allah, kemudian dia tidak melakukan perbuatan keji dan fasik (maksiat), maka dia akan kembali (ke rumahnya) dalam keadaan seperti pada hari dia dilahirkan oleh ibunya (yakni tanpa dosa).” (Muttafaqun ’Alaihi)

Continue reading

Haji ke Baitullah – Amalan Mulia dalam Islam

Oleh Ustadz Ruwaifi? bin Sulaimi, Lc.
Jum’at, 23 November 2007 – 08:52:14
Hit: 701

Mencari gelar haji/hajjah, menaikkan status sosial, atau unjuk kekayaan, adalah niatan-niatan yang semestinya dikubur dalam-dalam saat hendak menunaikan ibadah haji. Karena setiap amalan, sekecil apapun, hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta?ala. Terlebih, ibadah haji merupakan amalan mulia yang memiliki kedudukan tinggi di dalam Islam.

Haji ke Baitullah merupakan ibadah yang sangat mulia dalam Islam. Kemuliaannya nan tinggi memposisikannya sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Ini mengingatkan kita akan sabda baginda Rasul shallallahu ?alaihi wa sallam:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

?Agama Islam dibangun di atas lima perkara; bersyahadat bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Nabi Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.? (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no.16, dari shahabat Abdullah bin ?Umar radhiyallahu ?anhuma)
Seorang muslim sejati pasti mendambakan dirinya bisa berhaji ke Baitullah. Lebih-lebih bila merenung dan memerhatikan hadits-hadits Nabi shallallahu ?alihi wa sallam yang merinci berbagai keutamaannya. Seperti sabda Nabi shallallahu ?alaihi wa sallam:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

?Barangsiapa berhaji karena Allah lalu tidak berbuat keji dan kefasikan (dalam hajinya tersebut), niscaya dia pulang dari ibadah tersebut seperti di hari ketika dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa).? (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 1521 dan Muslim no. 1350, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ?anhu)

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

?Antara satu umrah dengan umrah berikutnya merupakan penebus dosa-dosa yang ada diantara keduanya, dan haji mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali Al-Jannah.? (HR. Muslim no. 1349, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ?anhu)